Jumat, 13 Maret 2015

siapa aku?

lahir dari kedua orangtua berdarah maluku, kadang bikin banyak hal lucu muncul di hidup gue, lucu sekaligus memalukan tepatnya, misalnya banyak orang yang beranggapan orang"ambon" itu keriting, berkulit hitam, sangar, rusuh, dll
sedangkan aku mah apa atuh?? inget mantan aja nangis bombay bawang putih bawang merah, lalu tambahkan sedikit garam dan merica,
masukan bahan-bahan lainnya *seakan gue mau bikin resep masakan
sebagai orang ambon yang melow total, gue sensitip kaya alat buat tes kehamilan
jangankan berantem, bola mata gw dkena debu aja gue menitikkan air mata.
itu antara nangis ama kelilipan beda-beda tipis kayanya.
tapi memang menurut gue kelembutan hati manusia ga di nilai dari gen, dan gue sepertinya kurang setuju dengan pepatah yang mengatakan, buah ga jatuh jauh dari pohonnya.
soalnya tergantung pohonnya itu pohon apa?
lalu saat buatnya jatuh berapa berat buah tersebut, dan berapa gaya yang di timbulkan saat berat jenis sebuah benda saat bergesekan dengan gravitasi bumi, serta berapa percepatan dan bisa aja pohonnya di pinggir jurang, trus buahnya jatoh ke dasar jurang, bisa aja kan ya?
jadi buat kalian yang ga mau punya kesamaan sikap atau perilaku sama orangtua kalian, kalian berharap aja pohon itu di pinggir jurang, dan lagi setiap manusia bisa menentukan pilihannya sesuai hati nya, jujur sih gue maunya dia, iya diaaa... dia yang selalu mengisi hari-hari gue yang semu dan kosong. yang dia dan menunggu dia datang untuk mengisi kekosongan di hati ini, lagia juga hati ini murah kok untuk di isi, cuma 500 ribu, kamar mandi di dalem full AC, cuma bayar listrik sama air sendiri*kontrakan kayanya.

1 komentar:

  1. Seorang Joeska, pria keturunan Maluku ini... Ntah bagaimana kita saling mengenal... Siapa dia, dari mana asalnya, siapa orang tuanya... Siapa pun yang bertemu dengannya pasti merasa nyaman... Setidaknya, aku merasa begitu... Dari wajah diam, marah, senyum hingga tawanya... yang selalu kunantikan... Tidak ada yang bisa memaksanya menjadi orang lain...Dia akan selalu menjadi dirinya sendiri... berjalan menurut paradigmanya, berhenti sejenak atau terus melangkah, mengisi harinya menurut caranya sendiri... Memaksa air mata menangisi kepergiannya, membuat hati ini harus siap kehilangan dirinya...

    Jika dia ada di tepian jurang, biarkan satu tangan kami saling terikat, supaya aku jatuh bersamanya... merasakan luka sepanjang perjalanan, asal tangan kami masih saling menggenggam... Kami tidak menyadari kami jatuh bersama, meski saling bergandengan... Rasa sakit sangat terasa ketika kami masing-masing memilih jalan yang berlawanan...

    BalasHapus