Minggu, 04 September 2016

PEMBICARAAN ANTARA HATI DAN OTAK

Seketika bersama turunnya hujan di malam hari, tanpa ragu air mata pun mengalir dari hati, mewakili segala perasaan dan kisah yang tak pernah terucap,kisah yang berlabuh pada hati yang salah, kisah yang berlabuh pada ketakutan, ketakutan untuk kembali terjatuh, aku lelah untuk terjatuh lagi dan lagi dan lagi. meski mungkin kali ini berbeda, ya- berbeda, sungguh berbeda dari kisah sebelumnya, kali ini aku terlalu terjatuh ke dalam jerat kenyamanan, jerat cinta yang mengurung semakin dalam dan semakin dalam lagi, yang semakin berusaha aku keluar dari dalamnya semakin aku terjerat dan terikat dalam simpul yang mengikat kedua tangan dan kakiku, tali yang menjerat seakan tidak ingin lepas, meski aku berontak untuk keluar dari perasaan ini, dan aku tahu bila  jerat ini akan membawaku bersama dengan segalanya ke dalam dasar palung di tengah samudera yang entah dimana?

inilah perasaan ketika seorang insan mencinta dan berusaha menerima apapun yang akan terjadi, setidaknya perasaan sudah tersampaikan, begitu katanya sembari menepis hujan di pipinya, sakit dan rapuh, ketika perasaan harus di tahan, ia mungkin tidak berusaha karena takut , karena takut akan sakit, sungguh pengecut bodoh, mencintai tanpa memiliki adalah omong kosong, mengapa engkau bertahan dalam posisi seperti ini? mana jiwa acuhmu, yang tidak memperdulikan hanya seorang perempuan yang baru engkau kenal,mana jiwa pria brengsekmu? bukankah kau hanya seorang pria brengsek yang tak memperdulikan perasaan wanita? mengapa engkau kini begitu rapuh, apa sinarnya dalam gelapmu terlalu terang hingga menerangi seluruh sisi gelapmu? apakah setakut ini dirimu hanya pada sepenggal kisah?

aku takut, aku takut ketika harus kehilangan lagi, dan sejujurnya aku tak tahu aku harus menjadi seperti apa? aku hanya terlalu bersyukur telah menemukan sebaris kisah pada rumitnya tulisan dalam hidupku, sebaris kisah yang terlalu berarti untuk tidak di baca berulang- ulang, aku tkkan bosan membacanya berulang-ulang, atau menulisanya berulang kali, kelabu memang ketika manusia berharap pada sesuatu yang tak pasti, terluka memang ketika kita mencinta namun tak tahu apa perasaannya padaku, aku terlalu takut untuk berharap akan hal lain, karena aku lebih bahagia hidup seperti ini setidaknya ia takkan pergi dari hidup ini, karena terlalu banyak luka yang di buat lembaran-lembaran lain pada hati ini, aku takkan pernah mau kehilangan cahaya, engkau adalah cahaya yang akan selalu menerangi gelapku, meski aku takkan pernah menggapaimu, setidaknya setiap malam engkau datang menerangi ku dan tak pernah lelah setiap harinya di kala matahari terbenam, menampakan dirimu menerangi kegelapan ini.

1 komentar:

  1. Sepi akan selalu terasa di saat kita ingin mengabaikannya. Ketika mentari senja terasa melingkupi rasa kesepian. Lalu datanglah bulan yang menenangkan jiwa. Hujan deras dimalam hari tak segera membuatku lega. Dalam gelap ku tertidur lelap dengan air mata yang tersisa. Malam mengakhiri segalanya yang belum berakhir sempurna. Kubiarkan angin malam menerbangkan kisahku yang tak bahagia.

    Kemudian pagi membangunkanku, hariku kembali berbinar. Namun, kini kesepian berubah menjadi rasa khawatir. Kupertanyakan akankan dia pergi seperti yang lain. Walaupun matahari berada di sana memberikan kehagatan yang nyata, tetap ku merasa ku takut akan datangnya hujan. Seperti angin sore hari kau datang. Angin kecil terasa menyejukan. Kutakut angin menjadi besar dan mematikan.

    Tahukah kau, rasa takut itu sulit sekali hilang. Matahari akan selalu tenggelam, gelap akan selalu tiba. Kita tidak bisa selalu bersinar terang. Kegelapan akan selalu hadir. Seperti ada banyangan di saat matahari bersinar. Namun, pastikan cahaya tidak pernah benar-benar hilang, seperti lilin di dalam gelap. Seperti kita yang akan berbaur dalam berbagai warna. Lukisan indah pun akan tercipta.

    BalasHapus